Kawasan Pesisir yang Mandiri Energi


Blogger Templates Gallery

Memanfaatkan tenaga angin dan surya, kawasan pesisir terpencil dapat menikmati listrik tanpa mengandalkan PLN

Krisis energi listrik. Inilah persoalan besar yang harus dihadapi bangsa ini, setelah pemerintah dinilai gagal mengawal berjalannya pembangunan dengan tidak mengantisipasi kebutuhan energi listrik dikemudian hari. Alhasil, Perusahaan Listrik Negara (PLN) pun tak mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat dan industri. Alih-alih memenuhi kebutuhan listrik masyarakat di kawasan desa pesisir terpencil, pemerintah justru berniat mengeluarkan Surat Keputusan Bersama antar menteri terkait, yang berisikan tentang pengalihan hari libur bagi industri, yang biasanya dilakukan pada Sabtu dan Minggu menjadi hari kerja.

Lantas, bagaimana dengan nasib desa-desa pesisir terpencil yang belum memperoleh sentuhan listrik dari PLN? Sampai kapan masyarakatnya harus menunggu hingga PLN mampu mensuplai listrik ke wilayah mereka? Menanggapai hal ini, Aryo Hanggono – Kepala Pusat Riset Teknologi Kelautan (PRTK), BRKP – menyatakan, jika pemenuhan kebutuhan listrik masyarakat di kawasan pesisir sebenarnya bisa dilakukan tanpa harus mengandalkan PLN. “Caranya, dengan memanfaaatkan potensi alam yang dimiliki untuk diubah menjadi energi listrik. Dengan begitu kawasan pesisir mampu mandiri energi.”

Hal itulah yang telah dilakukan PRTK dalam memenuhi kebutuhan listrik masyarakat pantai Gesing, yang terletak di desa Girikerto, kecamatan Panggan, Gunung Kidul – Jogjakarta. Sejak 2006, kawasan yang dijadikan lokasi program transmigrasi lokal ini sudah bisa dapat menikmati listrik, tanpa harus mengandalkan PLN.

Manfaatkan Tiupan Angin
Lebih lanjut Aryo menyebut, salah satu potensi alam yang ada di pantai Gesing dan kawasan pesisir pada umumnya yang mampu diubah menjadi energi listrik adalah kencangnya tiupan angin. Dengan menggunakan kincir angin dan beberapa peralatan penunjang lainnya, energi listrik pun bisa dihasilkan.

Prinsip kerja pembangkit tersebut juga cukup sederhana. “Mirip dengan prinsip kerja dinamo sepeda. Kemudian ditambah baterai yang berfungsi untuk menyimpan energi listrik yang dihasilkan,” terang Aryo. Kecepatan angin yang memutar kincir itulah yang akan men-charge accu. Selanjutnya, accu (baca: aki) tersebut akan menghasilkan energi listrik yang akan disimpan pada baterai sebelum dialirkan pada alat listrik yang akan digunakan.

Di pantai Gesing, PRTK membangun 2 buah kincir angin, yang masing-masing mampu menghasilkan pasokan listrik sebesar 1000 watt. Menurut Minhadi Nursamsu, salah seorang peneliti PRTK, 2000 watt listrik yang dihasilkan, digunakan untuk kepentingan umum masyarakat Gesing. “Untuk penerangan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan-red) dan menjalankan pompa air,” ujarnya. Mengenai nilai investasi, Minhadi menyebut, untuk membuat satu kincir angin dengan kapasitas 1000 watt, dibutuhkan biaya sekitar Rp 70 juta. “Selanjutnya hanya butuh pemeliharaan. Paling-paling pergantian accu yang biasanya dilakukan setiap 1 tahun sekali.”

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2008 - TDA Semarang - is proudly powered by Blogger
Smashing Magazine - Design Disease - Adiestudio - Dilectio Blogger Template | Gallery